Oleh
Dr.drh.Petrus Malo Bulu, MVSc
Sumba Barat Daya adalah salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki kekayaan wisata luar biasa, mulai dari rumah adat yang unik, danau yang menenangkan, pantai eksotis, hingga air terjun yang menawan. Selain itu, kegiatan adat seperti Pasola menjadi daya tarik budaya yang mampu memikat wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun, potensi luar biasa ini belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi maksimal bagi masyarakat setempat. Oleh karena itu, membangun pariwisata berbasis komunitas dengan semangat gotong royong menjadi langkah strategis yang harus diterapkan.
Pariwisata berbasis komunitas adalah pendekatan yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam mengelola dan mengembangkan potensi wisata di daerahnya. Dengan sistem ini, masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek yang aktif berperan dalam pengelolaan wisata. Gotong royong menjadi nilai fundamental dalam sistem ini, karena hanya dengan kerja sama dan kebersamaan, masyarakat dapat menciptakan destinasi wisata yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi semua.
Salah satu cara mewujudkan konsep ini di Sumba Barat Daya adalah melalui pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). BUMDes dapat berperan dalam mengelola objek-objek wisata secara profesional, mulai dari penyediaan fasilitas, promosi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Misalnya, pengelolaan tiket masuk ke lokasi wisata bisa dilakukan oleh BUMDes, dengan hasil yang dikembalikan untuk pembangunan desa, perbaikan infrastruktur, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, BUMDes juga bisa mengembangkan usaha berbasis pariwisata seperti penginapan berbasis rumah adat (homestay), kuliner khas Sumba, hingga penyediaan suvenir hasil kerajinan lokal.
Dengan konsep gotong royong, masyarakat dapat bekerja sama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan wisata, menyambut wisatawan dengan keramahan khas Sumba, serta memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap lestari tanpa kehilangan esensinya akibat komersialisasi yang berlebihan. Jika hal ini berjalan dengan baik, maka pariwisata di Sumba Barat Daya tidak hanya menjadi sektor unggulan dalam meningkatkan perekonomian daerah, tetapi juga menjadi model pariwisata berkelanjutan yang berpihak kepada masyarakat lokal.
Membangun pariwisata berbasis komunitas bukan hanya soal menarik wisatawan, tetapi tentang menciptakan ekosistem wisata yang adil, lestari, dan membawa manfaat bagi semua. Dengan BUMDes sebagai motor penggerak dan gotong royong sebagai landasan utama, Sumba Barat Daya dapat menjadi destinasi wisata yang berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
* Penulis: Doktor Lulusan Murdoch Australia, Dosen pada Politeknik Pertanian Negeri Kupang.
NB: semua gambar di atas bukan milik saya, bersumber dari media sosial.